Amygdala Dalam Perspektif Islam

Mengapa respon marah seringkali diikuti oleh rasa menyesal?


Amygdala merupakan salah satu struktur otak yang penting dalam tubuh manusia, terdiri dari 3 kelompok nucleus, nucleus basolateral, nucleus corticomedial dan nucleus centralis. Fungsi amygdala oleh ahli neuroscience diperkirakan berperan dalam memori, emosi, dan rasa takut. Kali ini saya akan menyinggung sedikit mengenai hubungan amygdala terkait emosi. 

Secara anatomis letak amygdala berada pada lobus temporalis, tepat pada sisi sebelah dalam cortex bagian bawah, sangat dekat letaknya dengan sistem limbic yang mana dikenal sebagai pusat ekspresi emosi (marah, gelisah, takut, kebahagiaan, kesedihan, dan rasa surprise), sedangkan letak pusat pemikiran oleh neuroscientist diyakini berada di prefrontal cortex, yang artinya jarak amygdala terhadap sistem limbic lebih dekat dibanding jarak terhadap prefrontal cortex.
Otak melakukan fungsinya dalam distribusi signal listrik melalui jaras-jaras yang ada di dalam otak. Agar lebih mudah bila dianalogikan  seperti jalan raya, jarak antara amygdala terhadap sistem limbic lebih dekat dibanding jarak antara amygdala dengan prefrontal cortex yang diyakini sebagai CEO tubuh manusia. Hal ini dapat menjelaskan bahwa ketika seseorang marah kemudian meluapkannya acap kali diikuti dengan rasa menyesal setelahnya. Karena berkaitan dengan jarak ketiga struktur tadi.

Sekarang mari kita hubungkan dengan sunnah nabi Muhammad SAW. 

Ingatkah anda akan sunnah nabi yang menyatakan, jika seseorang marah maka ubahlah posisi dengan duduk atau berbaring? Dari Abu Dzarr ra dari Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaknya ia duduk, kalau belum pergi amarahnya, hendaknya iya berbaring”

Hal ini menjelaskan bahwa, ketika seseorang mengalami respon emosi maka jaras yang tadinya segera disampaikan pada sistem limbic, diarahkan terlebih dahulu menuju ke prefrontal cortex sebagai pengalihan, kemudian menuju ke jaras berikutnya menuju gyrus precentralis yang dikenal sebagai pusat motorik agar manusia melakukan pergerakan. Sehingga, hal ini menyebabkan penundaan respon emosi yang tadinya seharusnya langsung menuju ke sistem limbic, dapat kita arahkan terlebih dahulu ke prefrontal cortex untuk dipikirkan, apakah hal yang menjadi pemicu emosi pantas untuk diberikan respon marah?

Salam Kenal



Setiap menusia memiliki satu otak, yang sangat diharapkan dapat digunakan dengan baik oleh setiap pemiliknya. Otak terdiri dari lekukan-lekukan yang disebut gyrus. Pada otak terdapat dua gyrus yang berperan secara spesial, gyrus supramarginalis dan gyrus angularis. Saya secara pribadi sangat tertarik dengan gyrus angularis, yang merupakan pertemuan antara  lobus otak, yaitu lobus temporalis, parietalis, dan occipitalis. Dimana tiap lobus tersebut memiliki peranan khusus bagi fungsi tubuh, lobus occipitalis banyak berperan dalam visual (penglihatan), lobus temporalis banyak berperan dalam mendengar dan pemahaman, dan lobus parietalis berkaitan dengan somatosensorik manusia. Dalam artian yang lebih simpel, gyrus angularis menghubungkan antara fungsi otak yaitu melihat, mendengar, dan merasakan. Juga gyrus angularis memiliki koneksi terhadap area broca yang dikenal sebagai pusat bicara. 

Hal inilah yang membuat begitu spesialnya gyrus angularis, yang dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sebaiknya setiap orang, sebelum berbicara baiknya dapat mendengar, melihat, dan merasakan. 

Blog ini mengambil tema “gyrianguli” merupakan hasil adopsi dari gyrus angularis, “gyri” yang dalam bahasa latin merupakan bentuk jamak dari gyrus, dan “anguli” merupakan kata yang saya adopsi dari kata angularis. Dengan harapan setiap pembaca blog ini dapat melihat, mendengar, kemudian merasakan apa yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang dirangkai oleh penulis. Semoga blog ini bermanfaat bagi setiap pembacanya, sehingga pembacanya dapat mengoptimalkan kerja gyrus angularis. 

Best regards,

Blog Owner

Salam Kenal