
Dalam
aspek kehidupan, otak manusia bekerja untuk mengatur pernapasan, detak jantung,
suhu tubuh, dan aspek lainnya yang mendukung kehidupan, termasuk berpikir. Pada
proses berpikir seseorang, terdapat konsep yang dikenal sebagai Emotional Memory Management, atau dengan
kata lain bahwa ketika seseorang berpikir atau membangun sebuah memori ditemukan
adanya keterlibatan emosi didalamnya. Menurut Joseph M. Carver, Ph.D, memori
adalah paduan antara informasi dan emosi/perasaan saat menerima informasi
tersebut.
Joseph
M. Carver, Ph.D juga menjelaskan bahwa terdapat dua jenis memori, yaitu memori eksplisit
yaitu memori yang mengandung informasi detail tentang pengalaman, dan memori
implisit yaitu memori yang mengandung respon psikologis pada saat mengalami
pengalaman tersebut, dikenal juga dengan istilah “emotional memory”, respon psikologis yang dimaksud dapat berupa
peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi pernapasan, ketegangan otot,
kecemasan, dan reaksi lainnya yang terkait dengan rasa takut, teror, bahkan
rasa bahagia.
Ketika kita mengalami suatu pengalaman yang sangat emosional, otak tidak hanya merekam detail peristiwa seperti siapa, dimana, kapan, apa yang terjadi, dll. Tetapi otak juga akan merekam keadaan emosional yang kita rasakan pada saat itu. Sehingga, ketika kita mengingat akan pengalaman tersebut, maka otak mampu untuk me-recall detail peristiwa hingga perasaan yang mirip saat pengalaman tersebut dialami. Maka hal ini dapat menjelaskan apa yang terjadi pada individu yang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder dengan pengalaman yang traumatik, begitu juga sebaliknya dengan sebuah pengalaman yang membahagiakan, otak mampu menghadirkan rasa yang sama ketika hal tersebut terjadi.
Kerja
otak tersebut berkaitan dengan kerja dari bahan kimia yang ada didalam tubuh
manusia, yaitu neurotransmitter. Dalam sebuah peristiwa yang membahagiakan, otak
akan membentuk keseimbangan neurotransmitter untuk menghasilkan rasa bahagia,
terutama dopamin (salah satu jenis neurotransmitter). Dopamin ini bersifat
adiktif, sehingga otak akan selalu berusaha untuk membangun memori bahagia tersebut. Dalam proses recall sebuah emotional memory, ketika fakta-fakta
peristiwa telah di-recall otak kita
membutuhkan waktu sekitar 90 detik hingga 120 detik untuk mendapatkan respon
emosional yang sama ketika pengalaman tersebut dialami. Uniknya, otak manusia
diciptakan hanya mampu membangun satu respon emosi pada satu waktu, maksudnya
adalah seperti ini coba anda bayangkan sedang makan makanan terenak yang pernah
anda makan, setelah 90 detik respon emosi mulai muncul, seperti rasa bahagia
ketika makan makanan tersebut, nah kemudian coba anda pikirkan saat makan
tersebut seekor ular dilemparkan tepat di pangkuan anda, apa yang anda rasakan?
Respon bahagia yang tadinya muncul akan seketika hilang dengan adanya respon
emosi yang baru. Lebih lanjut lagi, menurut Joseph M. Carver, Ph.D, ketika
seseorang melakukan recall terhadap
memori yang mengandung respon emosi yang negatif seperti rasa marah, respon
emosi tersebut dapat mengalami penundaan dengan melakukan recall memori yang mengandung respon positif.
Maka
hal inilah yang diajarkan 1400 tahun yang lalu oleh Nabi Muhammad SAW, dengan memberikan
anjuran (sunnah) yaitu memberikan panggilan mesrah kepada istri atau suami, yang
menggambarkan rasa cinta kasih kepada pasangan. Poin penting yang pertama adalah
panggilan sayang tersebut akan membangun suatu emotional memory yang mengandung respon emosinal positif, sehingga
dapat terus menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berumah
tangga. Poin penting yang kedua adalah dengan adanya memori yang mengandung
respon emosional yang positif, bayangkan saja ketika seorang suami marah kepada
istrinya tetapi ketika marah sang suami menggunakan panggilan mesrah tersebut.
Maka secara alamiah akan terjadi penundaan respon emosional (marah) sang suami,
karena adanya penundaan dari sebuah emotional
memory dari panggilan mesrah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar