Dari Bali ke Surabaya Lewat Jalur Darat !

                Wow! First impression in Bali. Pulau yang katanya merupakan surga liburan eh tapi kayaknya surga hiburan sih. Tapi tulisan kali ini tidak membahas bagaimana berhiburan di Bali, karena saya tidak begitu menikmati hiburan disana, perginya tujuan pekerjaan sih. HAHA.
                Nah! Karena tulisan tentang bagaimana menggunakan jalur darat dari pulau Jawa ke Bali sudah banyak berseliweran, sedangkan tulisan perjalanan darat dari Bali ke Jawa sangat minim. Baiklah, kali ini saya akan menceritakan bagaimana perjalanan darat dari bali ke Surabaya. Banyak modalitas yang bisa digunakan via jalur darat, mulai dari naik travel perjalanan darat, bus trans-provinsi, hingga jalur ekonomis ala backpacker.
                Saya memutuskan menikmati perjalanan ala backpacker! Perjalanan dimulai dari kota Denpasar, awalnya saya kebingungan bagaimana ke Gilimanuk, soalnya sekarang terminal Ubung katanya dialihkan ke terminal Mengwi. Akhirnya setelah banyak bertanya ke warga bali, saya memutuskan untuk tetap ke terminal Ubung untuk menuju ke Gilimanuk. Nah, setibanya di terminal ubung, terminal tampak sepi, tapi tenang saja, karena setiba di terminal ubung ada saja orang-orang yang menanyakan tujuan kita, ternyata terminal Ubung sekarang merupakan terminal trans-kabupaten, yah katanya sih terminal lokal, menurut pak sopir. Sedangkan terminal Mengwi merupakan terminal trans-provinsi yang jarak tempuhnya lebih jauh, simplenya sih bus-bus besar disana. Waktu menunggu di terminal ubung cukup lama, soalnya saya sampai di Ubung sekitaran jam 08.30 wita, sedangkan bus meninggalkan terminal ubung jam 09.00 wita. Tapi tidak akan membuat kalian menunggu samoai berjam-jam kok, karena setiap bus punya jatah ngetem. Kalau kalian gak sempat sarapan, saya sarankan jangan menunggu di terminal ubung, karena gak ada penjual makanan disana, adanya di jalur keluar bus, Jl. Pedada, kalian bisa menunggu di jalan ini, banyak penjual makanan dan warung-warung di sepanjang jalan ini, bus pun pasti melalui jalan ini dan mencari penumpang di jalan ini, gak jauh kok dari terminal ubung hanya sekitar 50-an meter dari terminal ubung.
                Perjalanan dari terminal Ubung dimulai! Perjalanan Ubung-Gilimanuk menghabiskan waktu sekitar 3,5 – 4 jam, tergantung kecepatan busnya, perjalanan saya 4 jam soalnya busnya jalan nyantai, nyantai banget malah. Biaya perjalanan 40rb saja, harga yang sama untuk turis lokal ataupun turis mancanegara, kebetulan ketemu sama turis dari Australia, dia dikenakan biaya 40rb juga kok. Setibanya di Gilimanuk sekitar pukul 13.00 wita, enaknya lagi terminal bus Gilimanuk terletak di depan Pelabuhan Gilimanuk, cukup jalan kaki untuk mencapai pelabuhan, pelabuhan ini merupakan pelabuhan kapal ferry yang menghubungkan pelabuhan Gilimanuk-Ketapang (Banyuwangi). Biayanya murah sekali! 6500 rupiah untuk setiap penumpang dewasa. Tidak menunggu lama ketika naik di atas kapal kemudian kapal berlabuh menuju pelabuhan Ketapang, perjalanan menghabiskan waktu sekitar 45 menit – 1 jam, tergantung keadaan laut.

                Setiba di pelabuhan Ketapang, cukup berjalanan kaki sekitar 150-200 meter menuju stasiun kereta, kalau naik kereta bisa sekitar 185rb-285rb tergantung kelas perjalanan. Perjalanan lebih singkat menuju Surabaya dibandingkan naik bus, tetapi saya tidak sempat naik kereta karena kehabisan tiket kereta, kesimpulannya adalah kalau mau naik kereta mesti dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Akhirnya saya memutuskan naik bus, kembali dibingungkan dengan adanya 2 terminal di Banyuwangi yaitu terminal bus Karangente (Brawijaya) dan terminal Kapuran. Jarak terminal Brawijaya sekitar 10 km dari pelabuhan Ketapang, sedangkan terminal Kapuran berjarak 2 km dari pelabuhan Ketapang. Saya memutuskan naik ojek dari stasiun ke terminal Ketapang, oh ya! Bagusnya lagi, ternyata di Banyuwangi ada Go-Jek dan Grab kok, jadi saya memilih naik grab. Bayaran 4rb untuk mencapai terminal Kapuran, dan ternyata terminal Kapuran merupakan terminal kelas ekonomi dari Banyuwangi alias terminal bus tanpa AC yang melalui jalur Situbondo menuju ke Surabaya. Sedangkan terminal Brawijaya rasanya merupakan terminal yang lebih besar untuk bus-bus besar, cuma saja saya belum sempat ke sana, ini hanya dugaan karena letaknya di tengah kota.
                Kemudian perjalan saya dimulai lagi, menggunakan bus non-ac dengan ac alami dan kursi 2-3 di dalam bus, dengan menggunakan bus ini saya harus melakukan pergantian bus dengan tujuan Banyuwangi-Probolinggo perjalanan sekitar 4 jam dengan biaya sekitar 25rb-an, saya lupa harga pastinya, yang jelas gak lebih 30rb kok, nah pada saat pergantian bus, kalian gak perlu bingung karena sopir dan kondektur bus yang kalian naik akan mengarahkan untuk pindah bus untuk menuju Surabaya. Pindah bus bisa dilakukan di terminal Probolinggo, tetapi saya memilih pindah pada saat diarahkan oleh sopir pada saat di pom bensin Probolinggo, jika kalian diarahkan untuk berpindah bus segeralah beralih bus untuk mencari tempat duduk, orang berebutan ternyata. Perjalanan selanjutnya lebih nyaman dengan bus AC yang perjalanan menuju Surabaya (Terminal Bungurasih) sekitar 4 jam dengan biaya 18rb saja!

                Perjalanan panjang tapi sangat mudah untuk dinikmati karena pemandangan yang disuguhkan sangat menawan. Selamat berpulang dari liburan kawan! Atau yang dari Bali mau berlibur ke Jawa, selamat berlibur! Oh iya, info tambahan, terminal Bungurasih merupakan terminal bus antar-kabupaten dan antar-provinsi jadi kalau kalian mau menuju kota-kota lain di Pulai Jawa, kalian bisa mulai dari terminal ini. Dan bagi yang mau menggunakan jasa ojek online, saran saya turun di Ramayana depan Bungurasih kemudian berjalan kaki menuju ke Halte Bus di depan pintu masuk Bungurasih, disini menjadi tempat pick-up transportasi online. 

Emotional Memory


        Dalam aspek kehidupan, otak manusia bekerja untuk mengatur pernapasan, detak jantung, suhu tubuh, dan aspek lainnya yang mendukung kehidupan, termasuk berpikir. Pada proses berpikir seseorang, terdapat konsep yang dikenal sebagai Emotional Memory Management, atau dengan kata lain bahwa ketika seseorang berpikir atau membangun sebuah memori ditemukan adanya keterlibatan emosi didalamnya. Menurut Joseph M. Carver, Ph.D, memori adalah paduan antara informasi dan emosi/perasaan saat menerima informasi tersebut.

     Joseph M. Carver, Ph.D juga menjelaskan bahwa terdapat dua jenis memori, yaitu memori eksplisit yaitu memori yang mengandung informasi detail tentang pengalaman, dan memori implisit yaitu memori yang mengandung respon psikologis pada saat mengalami pengalaman tersebut, dikenal juga dengan istilah “emotional memory”, respon psikologis yang dimaksud dapat berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi pernapasan, ketegangan otot, kecemasan, dan reaksi lainnya yang terkait dengan rasa takut, teror, bahkan rasa bahagia.

        Ketika kita mengalami suatu pengalaman yang sangat emosional, otak tidak hanya merekam detail peristiwa seperti siapa, dimana, kapan, apa yang terjadi, dll. Tetapi otak juga akan merekam keadaan emosional yang kita rasakan pada saat itu. Sehingga, ketika kita mengingat akan pengalaman tersebut, maka otak mampu untuk me-recall detail peristiwa hingga perasaan yang mirip saat pengalaman tersebut dialami. Maka hal ini dapat menjelaskan apa yang terjadi pada individu yang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder dengan pengalaman yang traumatik, begitu juga sebaliknya dengan sebuah pengalaman yang membahagiakan, otak mampu menghadirkan rasa yang sama ketika hal tersebut terjadi.

        Kerja otak tersebut berkaitan dengan kerja dari bahan kimia yang ada didalam tubuh manusia, yaitu neurotransmitter. Dalam sebuah peristiwa yang membahagiakan, otak akan membentuk keseimbangan neurotransmitter untuk menghasilkan rasa bahagia, terutama dopamin (salah satu jenis neurotransmitter). Dopamin ini bersifat adiktif, sehingga otak akan selalu berusaha untuk membangun memori bahagia tersebut. Dalam proses recall sebuah emotional memory, ketika fakta-fakta peristiwa telah di-recall otak kita membutuhkan waktu sekitar 90 detik hingga 120 detik untuk mendapatkan respon emosional yang sama ketika pengalaman tersebut dialami. Uniknya, otak manusia diciptakan hanya mampu membangun satu respon emosi pada satu waktu, maksudnya adalah seperti ini coba anda bayangkan sedang makan makanan terenak yang pernah anda makan, setelah 90 detik respon emosi mulai muncul, seperti rasa bahagia ketika makan makanan tersebut, nah kemudian coba anda pikirkan saat makan tersebut seekor ular dilemparkan tepat di pangkuan anda, apa yang anda rasakan? Respon bahagia yang tadinya muncul akan seketika hilang dengan adanya respon emosi yang baru. Lebih lanjut lagi, menurut Joseph M. Carver, Ph.D, ketika seseorang melakukan recall terhadap memori yang mengandung respon emosi yang negatif seperti rasa marah, respon emosi tersebut dapat mengalami penundaan dengan melakukan recall memori yang mengandung respon positif.

      Maka hal inilah yang diajarkan 1400 tahun yang lalu oleh Nabi Muhammad SAW, dengan memberikan anjuran (sunnah) yaitu memberikan panggilan mesrah kepada istri atau suami, yang menggambarkan rasa cinta kasih kepada pasangan. Poin penting yang pertama adalah panggilan sayang tersebut akan membangun suatu emotional memory yang mengandung respon emosinal positif, sehingga dapat terus menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berumah tangga. Poin penting yang kedua adalah dengan adanya memori yang mengandung respon emosional yang positif, bayangkan saja ketika seorang suami marah kepada istrinya tetapi ketika marah sang suami menggunakan panggilan mesrah tersebut. Maka secara alamiah akan terjadi penundaan respon emosional (marah) sang suami, karena adanya penundaan dari sebuah emotional memory dari panggilan mesrah tersebut. 

Salam Kenal