Is Today The Dark Ages of Islam?


 Ketika masa kejayaan Islam di Eropa, Islam bukan hanya kuat dalam segi militer namun juga unggul dalam segi ilmu pengetahuan. Islam sangat peduli dan menghargai ilmu pengetahuan. Agama tidak mendominasi atau mengatur perkembangan ilmu pengetahuan, akan tetapi Islam melihat bahwa sesuatu yang baru membutuhkan penyelesaian dengan cara bijaksana dan tidak bertentangan dengan dasar-dasar keagamaan. Kebaikan untuk manusia dan alam adalah konsep Islam untuk menghadirkan sesuatu yang lebih baik dan teratur. Islam banyak sekali melahirkan ilmuwan-ilmuwan terkenal, tidak hanya dikenal oleh dunia Islam, namun juga di Eropa.
               
Pada masa perkembangannya ilmu pengetahuan dalam dunia Islam, masjid dijadikan tempat berkumpul berbagai lapisan masyarakat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid digunakan sebagai tempat belajar agama dan bertukar pikiran mengenai masalah pengetahuan serta masalah sosial, dan juga sebagai tempat tumbuhnya dinamika perekonomian.

Di daerah Andalusia, Islam telah banyak mengembangkan ilmu pengetahuan, yang mana Islam mengenalkan tulisan-tulisan Arab yang digunakan untuk menghiasi masjid. Islam di Andalusia juga mengenalkan bangunan bercirikan Islam mengikuti gaya bangunan di Andalusia. Hal tersebut membuktikan bahwa Islam tidak kaku secara konsep bangunan. Contohnya, istana Alhambra, Masjid Cordoba, Menara Giralda. Arsitektur-arsitektur ini menunjukkan bahwa Islam menguasai ilmu arsitektur, kesenian, dan matematika dengan baik dan lebih baik dari peradaban manapun di masa itu. Islam di Andalusia berhasil menciptakan madrasah atau sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang dibangun pada masa pemerintahan Abd al-rahman III. Juga pada masa pemerintahan ini dibangun perpustakaan di kota-kota besar yang menyebar ke seluruh kekuasaannya di Semenanjung Iberia. Jumlah perpustakaan dan koleksi buku dalam segala bidang ilmu pada waktu itu merupakan jumlah terbesar di Eropa.

Ketika Islam dikalahkan pada tahun 1248 dan 1492, Eropa mempelajari kembali buku-buku yang dikembangkan oleh Islam. Buku-buku karangan Islam diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipelajari di seluruh Eropa serta dijadikan buku wajib di berbagai Universitas, seperti buku kedokteran karangan Ibnu Sina. Islam tidak membawa apapun kecuali nyawa dan pakaian yang mereka pakai ketika diusir dari Andalusia. Saat itulah Eropa mengalami Renaisans, atau Era Terlahir Kembali. Renaisans merupakan gerakan penting mengubah masa depan Eropa menjadi penguasa dunia. Dengan Renaisans Eropa bersemangat untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Spanyol, kemudian diterjemahkan lagi ke berbagai bahasa Eropa. Tanpa terjemahan dan transliterasi, Eropa tidak akan melahirkan tokoh seperti Galileo Galilei dan Nicholas Copernicus. Tanpa transliterasi, mungkin Eropa juga tidak lahir Revolusi Industri yang berpengaruh dalam perkembangan teknologi dan peradaban manusia. Transfer ilmu dari Islam ini akhirnya mempengaruhi cara berpikir orang Eropa yang ingin “berpikir bebas” seperti orang Islam dalam mengembangkan pemecahan masalah. Penghalang utama dalam berpikir bebas kala itu ialah Gereja. Karena gereja adalah pusat segalanya, dan pengetahuan harus selaras dengan keimanan gereja yang berbasis katolik. Jadi Galileo dan Copernicus adalah orang Eropa yang berani mengungkapkan kebenaran ilmu pengetahuan di Eropa. Guru mereka berdua adalah karya-karya ilmu pengetahuan yang dibuat oleh orang-orang Islam.

Dengan ilmu pengetahuan Islam menemukan kejayaannya pada abad keemasan di Baghdad dan di Cordoba di waktu yang bersamaan, yaitu sekitar tahun 900-1000 M. Islam menemukan kejayaan tidak cukup dengan mengangkat senjata  untuk memperluas wilayah, namun Islam juga menguatkan dengan ilmu pengetahuan dengan tujuan menciptakan peradaban, baik berupa fisik dan nonfisik. Para cendikiawan Islam berkumpl di kota Cordoba, Cairo, dan Baghdad untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah ada di masa sebelumnya. Ketika menemui masa kehancurannya, hanya Cairo yang selamat dari kemusnahan dan peperangan, namun Cairo tidak selengkap Cordoba dan Baghdad mengenai ilmu-ilmu umum. Cairo yang didukung oleh adanya universitas Al-Azhar didominasi oleh ilmu-ilmu agama. Serangan Mongol di Baghdad dan diambilnya literatur dari Cordoba membuat Islam mengawali peradaban hampir dari nol lagi. Semua karangan ilmuwan penting berbagai bidang seperti kedokteran, matematika, astronomi, biologi, kimia, filsafat, dan ilmu umum lainnya dibakar dan dibuang ke sungai Tigris. Sementara karangan dalam bidang agama terselamatkan karena pada waktu itu Baitul Hikmah tempat penyimpanan naskah atau karangan ilmuwan bidang umum, sedangkan karangan agama disimpan di rumah ulama-ulama yang bersangkutan. Oleh sebab itu karangan mengenai agama Islam masih dapat ditemukan dan dipeajari hingga sekarang seperti karangan Imam Al-Ghazali. Seandainyabbuku-buku ilmiah tersebut tidak dihancurkan, mungkin Islam mudah untuk bangkit kembali, karena ilmu adalah fondasi peradaban. Apa jadinya jika Islam hanya melakukan invasi tanpa pembangunan peradaban? Mungkin tidak ada kekhalifahan Abbasiah dan Umayah yang terkenal, tidak akan ada intelek-intelek muslim seperti Ibnu Sina, al-Farabi, al-Kindi, al-Khawarizmi, Ibnu Haitsam, Ibnu Hayyan, Ibnu Firnas, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi.

Jatuhnya Cordoba dan kota-kota lain membuat pelajar muslim kehilangan referensinya dalam mempelajari ilmu umum. Pada akhirnya, Eropalah yang diuntungkan karena mereka tinggal mempelajari tanpa bersusah payah membangun fondasi. Fondasi mereka sebenarnya karya-karya Yunani yang dikembangkan dengan maksimal oleh pemikir-pemikir Islam hingga ditemukan metode kedokteran dan ilmu hitung dengan penemuan angka nol, pengoperasian aljabar, dan sebagainya. Hidup di lahan tandus dan tanpa ada ilmu pengetahuan membuat peradaban Islam “jalan di tempat” sejak abad ke-14. Islam telah kehilangan sinarnya semenjak hilangnya pengetahuan manusia di Baghdad dan Cordoba. Sebagian besar lenyap dan sebagian kecil berpindah tangan.

 “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah/58: 11).
Ayat ini menjelaskan keutamaan orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan.

Tulisan ini dibuat untuk menggugah masyarakat muslim untuk sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban. Karena Islam hanya  akan berjalan di tempat ketika kita abai terhadap ilmu pengetahuan, sebaliknya Islam akan bersinar ketika kita sadar untuk membangun peradaban lewat ilmu pengetahuan.


Dari kos no.18 
Ibu kota.


Salam Kenal